Cerpen Remaja


ANGIN YANG MENERPA BAYANGMU
Karya : Agni Aulia Hartono






 

“Aku kan udah bilang gak mau !”, senakku pada ibu.
            Aku dipaksa oleh ibuku untuk melanjutkan sekolah di SMA  Cakrawala Daerah Istimewa Jogjakartan.
“ ayolah Nana ! Ayah dan Ibu juga kan lulusan sekolah itu. Ibu sudah tahu seluk beluk sekolah itu. Di sana nanti kamu tinggal dengan bibi dan nenekmu. Sekalian ibu ingin agar kamu bisa hidup mandiri.” bujuk Ibu.
            Suasana rumah sore itu begitu ramai dengan perdepatanku dengan orang tua ku. Memang aku ini anak yang rewel. Semua keinginanku harus terpenuhi. Tak salah jika orang tuaku sudah lelah menghadapiku.  Maka dari itu mereka berniat mengirimku ke Jogja. Kalian tahu kan orang-orang di sana mengutamakan kesopanan, kedisiplinan, dan kemandirian. Ketiga hal itulah yang aku tidak suka.
            Aku mengurung diriku di kamar. Orangtuaku tetap memaksaku untuk sekolah disana. Dengan muka kesal selagi tertelungkup di kasur, aku memandangi barang-barang yang aku miliki di kamar ini. Begitu banyak yang aku pinta kepada ayah dan ibu. Mereka tulus sepenuh hati memberikannya. Lalu mengapa aku begitu egois tidak ingin memenuhi keinginan kedua orang tuaku. Aku pandangi fotoku saat masih bayi yang belum punya keinginan dan keegoisan. Harusnya aku tumbuh lebih baik. Bukan menjadi anak durhaka seperti ini. Pintu hatiku mulai terbuka. Air mataku mulai mengalir. Aku segera bangkit dari kasur. Aku ingin menghampiri ibu secepatnya.
            Dengan air mata yang masih mengalir dan berlari bergegas memeluk ibu yang sedang berdiri memandangi foto keluarga yang terpajang di dinding.
“Ibu maafkan Nana ! Nana tidak ingin jadi anak durhaka. Nana ingin membalas kebaikan ibu dan ayahselama Nana masih sempat. Nana....”
“sudahlah Nak ! tidak usah diteruskan. Ibu bahagia mendengarnya. Maafkan ibu telah memaksa mu Nak.” Sambung ucapan ibu memotong perkataanku yang bersedu.
“tidak, bu! ibu tidak salah. Ini semua demi  kebaikan ku. Sudah banyak permintaan Nana yang terpenuhi oleh ibu dan ayah. baru sekarang kalian memohon kepadaku. Lalu kenapa juga aku tidak mau memenuhinya. Baik bu, aku mau belajar di sana.” Ujarku dengan air mata yang mulai mengering.
           
            Sampailah aku di rumah bibi ku. Besoknya ayah dan ibu kembali ke Jakarta. Di sini aku diajak berkeliling seputar DI Yogyakarta ini. Begitu damai yang aku rasakan. Begitu pun SMA Cakrawala yang aku singgahi untuk melakukan testing terlebih dahulu. Tanpa kendala aku berhasil masuk dan menjadi siswi SMA Cakrawala Yogyakarta.
Minggu pertama aku lalui dengan kegiatan Masa Orientasi Siswa Baru. Hari pertama saat aku melangkah memasuki wilayah sekolah ini angin berhembus menerbangkan dedaunan yang terlepas dari pohonnya. Suasana aneh yang aku rasakan. Kaki ku semakin ragu untuk melangkah lebih jauh.

“ duuh, apa yang aneh ya ?” ujarku di sepanjang langkah kaki yang berat ini.
            Aku terus berusaha untuk menenangkan perasaan aneh ini. Aku mengingat kembali sesuatu yang mungkin aku lupakan.
“ooh,  iya ! aku lupa belum menelpon ibu kalau hari ini hari pertama kegiatan MOSB. Pantas dari tadi langkah kaki ku begitu meragukan. “ aku berkata seorang diri di sekitar halaman sekolah.
            Setelah selesai menelpon ibu, aku bergegas menuju papan pengumuman untuk mengetahui dimana kah posisiku ditempatkan. X A, itulah kelas ku. Aku pun mulai berjalan menuju kelas yang akan aku tempati.
“ Hai, aku Tasya. “ sapa seorang gadis yang menghampiri ku di tempat yang aku duduki.
“oh, hai aku Nana. Silahkan duduk di sini.” Jawabku mengajaknya duduk sebangku denganku.
“ terima kasih. “ jawabnya lagi tersenyum.
            Kami sempat mengobrol untuk mengenal lebih jauh lagi. Lalu masuklah beberapa Kakak Osis yang akan memberikan materi. Dengan terlebih dahulu memperkenalkan diri mereka kepada kami. Aku tidak begitu menyimak perkataan mereka. Karena posisiku yang terletak di belakang. Juga aku sempat mencari cincin pemberian ibu yang terjatuh di bawah meja. Diantara mereka ada yang menatapku terus dari tadi. Aku sempat bingung kenapa diamenatapku ? ah, tidak mungkin. Jangan berpikir aneh-aneh, Nana ! tapi kok sepertinya tidak ada yang menyadari  bahwa kakak itu melihatku terus. Atau mereka tidak peduli ? kalau begitu aku pun tidak usah peduli saja.
            Setelah beberapa jam, aku minta izin ke toilet. Tasya mengantarku. Tak berselang lama, aku hendak keluar dari toilet ini. Tiba-tiba pintu terkunci dari luar. Aku meminta tolong Tasya untuk membukakannya. Tasya justru berkata bahwa pintu itu tidak terkunci dari luar. Aku mulai panik dan terus mencoba mengotak-ngatik pintu dan mendorongnya, namun gagal. Tasya segera mencari bantuan dengan pergi meninggalkanku disini.
            Dengan terus berusaha seorang diri, tiba-tiba ada yang melemparikan gulungan kertas padaku.
“siapa disana?” tanyaku.
Tapi tidak ada yang menjawab. Aku ambil gulungan kertas itu dan membaca pesan didalamnya. Isinya “AKU DIBUNUH BUKAN BUNUH DIRI” dan di sudut kiri bawah bertuliskan huruf K. Begitu terkejutnya aku membaca isi pesan itu. Tak lama darah menetes pada kertas yang aku pegang.
“ Aaaaarrggghh…! Ibu, Nana ingin pulang !!!” teriakku lalu melemparkan kertas yang aku pegang tadi.
            Semakin kencang pukulanku pada pintu toilet dengan terus berteriak begitu shocknya hingga aku merasa pusing dan pingsan terduduk di pojok dekat pintu.
“Nana, kamu tidak apa-apa?” Tanya Tasya cemas diruang UKS.
“Tadi.. hal aneh menimpaku di toilet. Ada sebuah gulungan kertas yang berisi pesan dan tiba-tiba darah menetes pada kertas tersebut” ungkapku dengan keadaan yang pusing lemas.
“ngaco kamu! Mungkin Cuma mimpi. Mending sekarang kamu pulang aja sepertinya keadaan kamu tidak begitu baik.” Pintanya
            Aku ikuti saran Tasya. Tapi apa mungkin Cuma mimpi? Yang jelas keadaanku baik-baik saja.
            Setibanya di rumah, aku menelpon Ibu. Aku memaksa pulang ke Jakarta. Kejadian tadi membuatku resah. Ibu terus membujukku agar tetap sekolah di sini. Ibu menjelaskan hal aneh yang menimpaku. Mungkin benar tadi hanya halusinasi saja. Besok aku akan tetap melanjutkan sekolah.
            Bel istirahat berbunyi. 4 hari aku lalui tanpa kendala. Saat yang lain beranjak dari kelas, aku tetap berada di kelas seorang diri. Tak lama masuk  seorang Kakak Osis.
“sendirian aja?” Tanyanya
“I..iya” jawabku gugup. Ia kakak OSIS yang waktu itu melihatku terus. Posturnya tinggi pas. Kulitnya putih dan tampan juga menurutku.
“kamu orang baru di Jogja kan?”
“Iya..”
“mau tidak kakak ajak kamu berkeliling di sekolah ini ? kamu pasti terkagun!” ajaknya
            Aku tidak menjawab karena ragu. Tapi ia langsung menarik tanganku dengan tersenyum. Tangannya dingin. Aku ingin memberontak, tapi rasanya ia hendak menyampaikan sesuatu mengenai sekolah ini.
            Sepanjang kami berjalan, ia bercerita trntang kekagumannya pada sekolah ini. Hingga ia menghentikkan langkahnya.
“oh, yaa.. maaf sebelumnya, nama kakak siapa ? hari pertama aku tidak memperhatikan pembicaraan kakak. “ tanyaku
“aku Keyshaf. Biasa dipanggil Key.” Jawabnya tanpa melepaskan pandangannya yang kosong kea rah dinding pembatas.
“ Kak Key..”
“apa ?”
“ Tidak, hanya saja..” jawabku terhenti melihat wajah pucatnya.
“aku memang sedih. Waktu terasa singkat ya,?” jawabnya
“maksud kakak ?”
“hidup itu indah. Tapi terlalu singkat bagi kakak. Apalagi jika berakhir dengan sebuah fitnah.” Ungkapnya.
            Kami berada tepat di depan Labolatorium IPA di lantai 3. Aku terkejut mendengarnya. Maksudnya apa ? aku masih belum mengerti. Rasanya ada yang ganjil darinya. Tapi entah mengapa hati ku tersentuh dengan ucapannya. Aku turut bersedih walau sebenarnya tidak begitu mengerti. Matanya mulai berkaca. Angin berhembus. Karena cukup kencang, mataku ikut terpejam. Dan..
“ Hey ! aku cari-cari, ternyata kamu di sini.” Sahut Tasya menepuk pundakku.
“ Kak Key mana ?” tanyaku heran saat melihat tak ada Kak Key di sini.
“siapa ? aku baru dengar namanya. Waaah, ternyata kamu dari tadi berduaan dengan seorang pria ? hati-hati looh..”
“Kok baru dengar ? dia kan yang … sebentar, dia kemana ? tidak mungkin menghilang begitu saja !” ujarku kebingungan.
“ jatuh kali ! hahaha..” gurau Tasya.
“ ngawur kamu ! jangan sebarangan !” sentakku.
“ sudahlah ! masalah itu nanti lagi dibahasnya. Toh, ia sekolah di sini juga, kan ? pasti masih
ada di sekolah ini.” Jelasnya.
Tasya segera menarik tanganku lalu berlari ketakutan. Sebenarnya aku pun merasa
takut. Rasanya ada sebuah rahasia di sekolah ini. Pikiran ku terus dibayangi rasa penasaran.

















 

            Satu bulan aku lalui aktifitasku di sekolah ini. Aku mulai jarang melihat Kak Key. Sepintas kadang aku tmukan ia di perpustakaan, di deppan kelasku, dan di tempat kami ngobrol sebulan lalu. Perlahan aku mulai tertarik padanya. Dan setiap hari aku mulai menantikan kehadirannya.
“Sya, Kak Key itu baik, tampan, dan pintar. Iya tidak ?” curhatku pada Tasya sambil melangkah di sepanjang rumput kecil pinggir lantai 1.
“ehem, kayaknya ada yang lagi..”
“iri ya ??!” gurauku.
“ Tidak juga. Aku kan sudah punya Kak Tomy.” Jawabnya menyombongkan diri
“iih, Tasya jahat. Kenapa baru bilang ?” tanyaku mulai berjalan mundur menghadapnya.
“kamu sendiri menyembunyikan Kak Key.”
“siapa yang menyembunyikan Kak Key ? dia kan ada di..”
“awas di belakangmu !” sambung Tasya menoleh ke belakangku.
“aww !” aku menabrak tanaman kebun sekolah.
“hahahaha..” tawa Tasya.
“aduuh, sakit tahu !eh, ini apa ?” geretuku terhenti melihat sebuah senter yang telah usang tertimbun rerumputan yang aku duduki.
“coba aku lihat !” pintanya lalu meraih tanganku untuk bangkit. Aku ambil senter itu yang keadaannya sudah rusak.
“ gara-gara kamu menimpa senter ini jadinya rusak !”
“enak saja ! badanku tidak seberat itu untuk membuat rusak senter ini.” Jelasku.
Senter ini rusak nampak dari retakan kaca dan sudah tidak menyala lagi.
“Na, itu apa di kepalamu ?” tanyanya heran.
“apa ? “ tanyaku berbalik heran. Aku meraba kepalaku dan ada yang menetes di kepalaku.
“Daa..raah” ujarnya terkejut.
            Aku tak berkata apapun. Rasanya ini berasal dari atas. Aku lihat diatasku adalah lokasi pembicaraanku dengan Kak Key beberapa minggu yang lalu.
“siapa di atas sana ?” taya Tasya.
“Kak Key..” jawabku spontan agak ragu.
“ ada apa ini ?” Tanya seorang pria menghampiri kami.
“hai, Kak Tomy ! Na, ini dia Kak Tomy.” Ujarnya girang.
            Aku masih bertatap kosong tanpa menghiraukan kedatangan Kak Tomy. Apa mungkin..? tidak ! itu tidak boleh terjadi ! batinku.
“Na, kamu mimisan.” Seru Tasya.

            Aku tersadar dari lamunanku. Aku lihat Kak Tomyyang menatap tajam senter yang aku pegang. Hingga terdengar sebuah teriakan seorang siswa yang begitu dekat dari arah atas. Pusing sekali rasanya saat aku mendengar teriakan tersebut. Dan anehnya mereka seolah tidak mendengar apa-apa.  Aku tutup telingaku dengan kedua tanganku. Aku kembali pingsan.

“ kamu sudah mendingan ?” Tanya Tasya.
“senter tadi mana ?”
“sudah ditangani Kak Tomy. Lebih baik kamu pikirkan keadaanmu.”
“oh, ya.. sebelum aku pingsan teriakkan siapa yangaku dengar ?”
“tidak ada teriakan. Sudahlah, aku semakin khawatir denganmu. Aku antar kamu pulang ya ?!” ajaknya cemas.
“baiklah..” jawabku.
            Di rumah aku ceritakan keganjilan yang aku alami. Pada nenek.
            “Jogjakarta menyimpan banyak misteri” ungkap nenekku. Kemudian nenek mulai melantunkan lagu jawa layaknya seorang sinden profesional. Mengajakku tertidur agar tidak tertekan atas kejadian yang aku alami. Sebari membelai rambutku, aku pun tertidur tanpa beban.
            “Apa itu?” tanya Tasya menghampiriku yang sedang memandangi tasbih pemberian nenek.
            “Tasbih dari nenek” jawabku
            “untuk apa ?” 
            “entahlah. Dia bilang untuk perlindunganku.”
            “ooh.. supaya tidak pingsan lagi ya ? emang ngaruh ? seperti dukun saja ! haahaa..” ejeknya duduk di sebelahku.
            “ jangan salah.. gini-gini juga nenekku sakti..”
“haha..” tawa kami bersama.
Tasbih ini nenek berikan padaku bukan tanpa maksud. Walau belum diberitahu, tapi dia bilang ini harus aku bawa saat berada di sekitar sekolah.aku ikuti saja nasehat nenekku ini.
Waktu pulang tiba. Aku berjalan pulang bersama Tasya. Sebelumnya, seperti biasa, aku selalu menunggunya selesai ngobrool dengan Kak Tomy. Ia adalah orang yang mencurigakan menurutku. Tatapannya padaku selalu kabur. Seperti orag yang merasa dibuntuti olehku.
Baru sampai gerbang sekolah, aku teringat tasbih dari nenek tertinggal di loker meja kelas. Aku kembali untuk mengambilnya. Saat aku buka pintu kelas,
“ Kak Key ?”  sahutku melihat Kak Key memegang tasbihku dari depan meja ku. Aku segera menghampirinya dengan wajah bahagia. Kak Key masih fokus pada tasbih yang ia pegang.
“Kakak baik-baik saja ?”tanyaku cemas.
Ia melihatku tanpa ekspresi. Aku menatap aneh padanya. Lalu ia berlari kelluar membawa tasbihku.
“Kak, mau kemana ? jangan pergi lagi Kak !” teriakku menyusulnya.
Ia terus berlari hingga berhenti di tempat yang sama. Lantai 3 depan Lab. IPA. Aku pun ikut berhenti dengan nafas kelelahan. Iamembalikkan badannya menghadapku. Lalu ia memberikan tasbih tadi padaku.
“lihatlah dan ungkapkan apayang akan kamu lihat!” ujarnya dengan wajah tersenyum ahru.
Lalu angin berhembus begitu kencang hingga membuatku terpejam. Ketika kembali aku membuka mata, sore yang sayu tiba-tiba berganti malam.
“apa yang terjadi?” tanyaku terkejut.
Tempat ini masih sama. Hanya saja,... tiba-tiba dari arah belakangku ada seorang pria yang mendekat. Itu seperti.. Kak Tomy ! benar itu Kak Tomy. Aku melihatnya masuk ke Lab.IPA. aku ikuti dia untuk melihat apa yang ia lakukan malam hari seperti ini. Aku kira Kak Key mengajakku ke masa lalu. Dan ini terjadi karena bantuan Tasbih dari nenek. Ternyata benar, rasanya nenekku punya indera ke enam. Dengan jantung yang berdebar, aku terus memegang erat tasbih ini.
Ternyata Kak Tomy mengambil sebuah map pada lemari di Lab. IPA.
“ Akhirnya aku bisa menyingkirkan Key dengan Lembar jawaban ini.” Ujarnya membisik.
“siapa di dalam ?” tanya seorang pria lain dari arah luar dengan sorotan senter. Lalu ia membuka pintu. Itu.. Kak Key !
“Kak,apa yang terjadi ?” tanyaku menghampirinya.
            Ia tidak menjawab dan nampak tak menyadari keberadaanku. Senter menyoroti Kak Tomy. Kak Tomy berlari mendekati pintu untuk beranjak kabur.
“sedang apa kamu di sini, Tomy ?” tanya Kak Key menghadang Kak Tomy yang hendak Kabur membawa map tadi.
“bukan urusanmu !” jawabnya sebari mendoraong Kak Key hingga ia terjatuh. Tangannya berdarah mengenai sebuah pot bunga yang menyimpan serpihan kaca. Darahnya mengalir begitu banyak. Aku ingin sekali membantunya. Tapi, aku tak dapat menyentuhnya.
“itu milik sekolah, dasar pencuri !” Teriak Kak Key.
Terjadi keributan antara keduanya. Hingga Kak Key terdorong melewati pagar pembatas setinggi 1 meter. Memang terlalu pendek bagi sebuah pagar pembatas. Ia hampir terjatuh dari lantai 3. Ia selamat karena tangan kirinya yang masih sempat menggapai pagar pembatas. Berulang kali aku coba menolongnya tapi tanganku menembusnya. Ya, aku diajaknya hanya untuk menyaksikan apa yang terjadi saat ini.
“Tomy, tolong aku !” pinta Kak Key pada Kak Tomy yang berdiri menatapnya.
Kak Tomy tidak melakukan apa pun. Aku lihat Kak Key yang terus berusaha meraih dinding pembatas dengan kedua tangannya. Tapi tangan kanannya berdarah bekas luka tadi dan darahnya menetes. Tangan kirinya tak cukup kuat untuk menahan badannya. Dan ia berteriak.
“Tidak !!” teriakku histeris melihat Kak Key melepaskan genggamannya. Air mataku terus mengalir. Nampak Kak Tomy yang sama-sama terkejut. Kami berlari turun untuk memastikan keadaan Kak Key.
Aku tak kuasa melihat keadaan Kak Key yang tergeletak di taman yang bertanamkan rerumputan kecil padanya. Kak Tomy mengambil senter yang ikut terjatuh milik Kak Key. Ia menyalakannya lalu menyoroti wajah Kak Key. Mata Kak Key terpejam. Kak Tomy yang terlihat bingung dan terkejut segera pergi meninggalkannya. Senter tadi ia sembunyikan di balik tanaman yang akan tinggi dari rerumputan agar tak ditemukan sebagai bukti untuk menentukan ia sebagai pelakunya. Tentu saja karena sidik jarinya tertera pada senter itu.
“ Kak..” bisikku menangis.
Seseorang menghampiriku dari belakang. Ia menutup mataku dengan kedua tangannya yang dingin dari belakang. Karena shock aku kembali terlelap di tempat ini.

Saat tersadar aku berada di rumah. Tasya di sampingku. Ia bilang aku pingsan di taman dengan pipi yang dibasahi air mata. Aku ceritakan apa yang aku alami pada Tasya. Tapi ia tidak percaya. Lalu aku ceritakan pada nenek. Nenek menyuruhku menceritakan hal ini pada pihak sekolah. Nenek sudah tahu ini akan terjadi. Benar nenekku memang orang yang memiliki indera lain. Ia turunkan ilmunya padaku. Pantas aku sering mengalami hal aneh.
Setelah aku ceritakan pada pihak sekolah, dibantu nenek, mereka berkata bahwa memang Kak Key meninggal satu tahun yang lalu. Saat itu diduga bunuh diri. Saat itu ia sedang melakukan piket sekkolah. Ya, itu memang tugas seorang aktifis OSIS. Dan arwahnya masih berkeliaran di sini. Jadi, yang aku jumpai bukan Kak Key yang masih idup. Begitu sedih sekali mengetahuinya. Aku menangis memeluk nenek. Aku terlanjur menyukai Kak Key. Tapi ini tidak mungkin dilanjutkan. Dia abstrak untukku.
Setelah beberapa penyelidikan berlangsung, Kak Tomy akhirnya ditetapkan sebagai pelakunya. Tasya menangis memelukku. Aku terus berusaha menyadarkannya bahwa Kak Tomy bukan pria baik untuknya. Aku ikut menangis bersamanya. Aku menyadarkan diriku bahwa Kak Key telah tiada.
Mataku terus tertuju pada sebuah batu nisan yang bertuliskan “ KESYAF”. Aku taburkan bunga di sekitar tumbukan tanah yang menimbun jasadnya. Semua asa yang terpendam dalam hatiku ikut tertabur bersamanya.
“ dia sudah tenang, Na. Karna kamu sudah mengungkapkan kebenarannya. “ Tasya merangkulku yang beruraian air mata.
“Tasya, aku terlanjur menyukainya. Aku belum bisa menerima kenyataan pahit ini. Aku ingin berbagi kebahagiaan bersamanya. Aku tahu ia masih mempunyai mimpi yang belum terlaksana.” Ungkapku pada Tasya tersedu.
Sesuai memanjatkan doa, bagi ketenangan Kak Key di sana, aku ingin sekali menemui Kak Key untuk terakhir kalinya. Lalu aku kembali ke sekolah tepatnya di lokasi terakhir sebelum ia pergi meninggalkan dunia ini.
“aku mohon, Tuhan ! untuk terakhir kalinya aku menemui Kak Kesyaf. Izinkanlah..” pintaku tertatih seorang diri di samping Lab. IPA lantai 3.
Sore yang sayu mlai berhiaskan rintik hujan. Semakin lama, hujan semakin deras. Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku pegang tangan itu karna aku kira itu Tasya. Tapi tangan Tasya tidak pernah sedingin ini. Apa mungkin..
“ Kak Key ?” tanyaku, lalu aku balikkan badanku menghadapnya. Benar ini Kak Key.
“ Kak.. “ aku mulai meneteskan air mata.
Kak Key menghapus air mataku. Ia tersenyum seperti biasa. Kedua tangannya bertumpu pada kedua pundakku.
“ nanana... nananana..nana..nana..” ia bernyanyi sebuah lagu yang liriknya diganti dengan namaku. itu lagu milik Acha Septriasa Sampai Ku Menutup Mata. Aku tersenyum dan mulai tertawa haru mendengarnya.
“liriknya salah.. ! harusnya,..”  ucapku terputus.
“ sampai ku menutup mata..” sambungnya dengan nada lagu yang sama beserta lirik yang sesuai.
Angin berhembus bersama tetesan air hujan. Lagi, mataku ikut terpejam dan setelah aku buka kembali ia tidak ada.
“terima kasih dan.. selamat jalan, Kak !” ujarku ditemani air mata dan angkasa yang ikut menurunkan kesedihannya.
THE END
           
Cerpen Remaja 9 Out Of 10 Based On 10 Ratings. 9 User Reviews.
Share 'Cerpen Remaja' On ...

Ditulis oleh: Agni Aulia - Thursday, November 29, 2012
Comments
0 Comments

Belum ada komentar untuk "Cerpen Remaja"

Post a Comment