ANGIN YANG MENERPA BAYANGMU
Karya : Agni Aulia Hartono
Karya : Agni Aulia Hartono
“Aku kan udah
bilang gak mau !”, senakku pada ibu.
Aku
dipaksa oleh ibuku untuk melanjutkan sekolah di SMA Cakrawala Daerah Istimewa Jogjakartan.
“ ayolah Nana !
Ayah dan Ibu juga kan lulusan sekolah itu. Ibu sudah tahu seluk beluk sekolah
itu. Di sana nanti kamu tinggal dengan bibi dan nenekmu. Sekalian ibu ingin
agar kamu bisa hidup mandiri.” bujuk Ibu.
Suasana
rumah sore itu begitu ramai dengan perdepatanku dengan orang tua ku. Memang aku
ini anak yang rewel. Semua keinginanku harus terpenuhi. Tak salah jika orang
tuaku sudah lelah menghadapiku. Maka
dari itu mereka berniat mengirimku ke Jogja. Kalian tahu kan orang-orang di
sana mengutamakan kesopanan, kedisiplinan, dan kemandirian. Ketiga hal itulah
yang aku tidak suka.
Aku
mengurung diriku di kamar. Orangtuaku tetap memaksaku untuk sekolah disana.
Dengan muka kesal selagi tertelungkup di kasur, aku memandangi barang-barang
yang aku miliki di kamar ini. Begitu banyak yang aku pinta kepada ayah dan ibu.
Mereka tulus sepenuh hati memberikannya. Lalu mengapa aku begitu egois tidak
ingin memenuhi keinginan kedua orang tuaku. Aku pandangi fotoku saat masih bayi
yang belum punya keinginan dan keegoisan. Harusnya aku tumbuh lebih baik. Bukan
menjadi anak durhaka seperti ini. Pintu hatiku mulai terbuka. Air mataku mulai
mengalir. Aku segera bangkit dari kasur. Aku ingin menghampiri ibu secepatnya.
Dengan
air mata yang masih mengalir dan berlari bergegas memeluk ibu yang sedang
berdiri memandangi foto keluarga yang terpajang di dinding.
“Ibu maafkan
Nana ! Nana tidak ingin jadi anak durhaka. Nana ingin membalas kebaikan ibu dan
ayahselama Nana masih sempat. Nana....”
“sudahlah Nak !
tidak usah diteruskan. Ibu bahagia mendengarnya. Maafkan ibu telah memaksa mu
Nak.” Sambung ucapan ibu memotong perkataanku yang bersedu.
“tidak,
bu! ibu tidak salah. Ini semua demi
kebaikan ku. Sudah banyak permintaan Nana yang terpenuhi oleh ibu dan
ayah. baru sekarang kalian memohon kepadaku. Lalu kenapa juga aku tidak mau
memenuhinya. Baik bu, aku mau belajar di sana.” Ujarku dengan air mata yang
mulai mengering.
Sampailah
aku di rumah bibi ku. Besoknya ayah dan ibu kembali ke Jakarta. Di sini aku
diajak berkeliling seputar DI Yogyakarta ini. Begitu damai yang aku rasakan.
Begitu pun SMA Cakrawala yang aku singgahi untuk melakukan testing terlebih
dahulu. Tanpa kendala aku berhasil masuk dan menjadi siswi SMA Cakrawala
Yogyakarta.
Minggu pertama
aku lalui dengan kegiatan Masa Orientasi Siswa Baru. Hari pertama saat aku
melangkah memasuki wilayah sekolah ini angin berhembus menerbangkan dedaunan
yang terlepas dari pohonnya. Suasana aneh yang aku rasakan. Kaki ku semakin
ragu untuk melangkah lebih jauh.
“ duuh, apa yang aneh ya ?” ujarku di sepanjang langkah kaki yang berat ini.
“ duuh, apa yang aneh ya ?” ujarku di sepanjang langkah kaki yang berat ini.
Aku
terus berusaha untuk menenangkan perasaan aneh ini. Aku mengingat kembali
sesuatu yang mungkin aku lupakan.
“ooh, iya ! aku lupa belum menelpon ibu kalau hari
ini hari pertama kegiatan MOSB. Pantas dari tadi langkah kaki ku begitu
meragukan. “ aku berkata seorang diri di sekitar halaman sekolah.
Setelah
selesai menelpon ibu, aku bergegas menuju papan pengumuman untuk mengetahui
dimana kah posisiku ditempatkan. X A, itulah kelas ku. Aku pun mulai berjalan
menuju kelas yang akan aku tempati.
“ Hai, aku
Tasya. “ sapa seorang gadis yang menghampiri ku di tempat yang aku duduki.
“oh, hai aku
Nana. Silahkan duduk di sini.” Jawabku mengajaknya duduk sebangku denganku.
“ terima kasih.
“ jawabnya lagi tersenyum.
Kami
sempat mengobrol untuk mengenal lebih jauh lagi. Lalu masuklah beberapa Kakak
Osis yang akan memberikan materi. Dengan terlebih dahulu memperkenalkan diri
mereka kepada kami. Aku tidak begitu menyimak perkataan mereka. Karena posisiku
yang terletak di belakang. Juga aku sempat mencari cincin pemberian ibu yang
terjatuh di bawah meja. Diantara mereka ada yang menatapku terus dari tadi. Aku
sempat bingung kenapa diamenatapku ? ah, tidak mungkin. Jangan berpikir
aneh-aneh, Nana ! tapi kok sepertinya tidak ada yang menyadari bahwa kakak itu melihatku terus. Atau mereka
tidak peduli ? kalau begitu aku pun tidak usah peduli saja.
Setelah
beberapa jam,
aku minta izin ke toilet. Tasya mengantarku. Tak berselang lama, aku hendak keluar dari toilet ini. Tiba-tiba pintu
terkunci dari luar. Aku meminta tolong Tasya untuk membukakannya. Tasya justru
berkata bahwa pintu itu tidak terkunci dari luar. Aku mulai panik dan terus
mencoba mengotak-ngatik pintu dan mendorongnya, namun gagal. Tasya segera
mencari bantuan dengan pergi meninggalkanku disini.
Dengan terus berusaha seorang diri,
tiba-tiba ada yang melemparikan gulungan kertas padaku.
“siapa disana?” tanyaku.
Tapi tidak ada yang menjawab. Aku ambil gulungan
kertas itu dan membaca pesan didalamnya. Isinya “AKU DIBUNUH BUKAN BUNUH DIRI” dan
di sudut kiri bawah bertuliskan huruf K. Begitu terkejutnya aku membaca isi
pesan itu. Tak lama darah menetes pada kertas yang aku pegang.
“ Aaaaarrggghh…! Ibu, Nana ingin pulang !!!” teriakku
lalu melemparkan kertas yang aku pegang tadi.
Semakin kencang pukulanku pada pintu
toilet dengan terus berteriak begitu shocknya hingga aku merasa pusing dan
pingsan terduduk di pojok dekat pintu.
“Nana, kamu tidak apa-apa?” Tanya Tasya cemas diruang
UKS.
“Tadi.. hal aneh menimpaku di toilet. Ada sebuah gulungan
kertas yang berisi pesan dan tiba-tiba darah menetes pada kertas tersebut”
ungkapku dengan keadaan yang pusing lemas.
“ngaco kamu! Mungkin Cuma mimpi. Mending sekarang kamu
pulang aja sepertinya keadaan kamu tidak begitu baik.” Pintanya
Aku ikuti saran Tasya. Tapi apa
mungkin Cuma mimpi? Yang jelas keadaanku baik-baik saja.
Setibanya di rumah, aku menelpon Ibu.
Aku memaksa pulang ke Jakarta. Kejadian tadi membuatku resah. Ibu terus membujukku
agar tetap sekolah di sini. Ibu menjelaskan hal aneh yang menimpaku. Mungkin
benar tadi hanya halusinasi saja. Besok aku akan tetap melanjutkan sekolah.
Bel istirahat berbunyi. 4 hari aku lalui
tanpa kendala. Saat yang lain beranjak dari kelas, aku tetap berada di kelas
seorang diri. Tak lama masuk seorang Kakak
Osis.
“sendirian aja?” Tanyanya
“I..iya” jawabku gugup. Ia kakak OSIS yang waktu itu
melihatku terus. Posturnya tinggi pas. Kulitnya putih dan tampan juga
menurutku.
“kamu orang baru di Jogja kan?”
“Iya..”
“mau tidak kakak ajak kamu berkeliling di sekolah ini
? kamu pasti terkagun!” ajaknya
Aku tidak menjawab karena ragu. Tapi
ia langsung menarik tanganku dengan tersenyum. Tangannya dingin. Aku ingin
memberontak, tapi rasanya ia hendak menyampaikan sesuatu mengenai sekolah ini.
Sepanjang kami berjalan, ia
bercerita trntang kekagumannya pada sekolah ini. Hingga ia menghentikkan
langkahnya.
“oh, yaa.. maaf sebelumnya, nama kakak siapa ? hari
pertama aku tidak memperhatikan pembicaraan kakak. “ tanyaku
“aku Keyshaf. Biasa dipanggil Key.” Jawabnya tanpa melepaskan
pandangannya yang kosong kea rah dinding pembatas.
“ Kak Key..”
“apa ?”
“ Tidak, hanya saja..” jawabku terhenti melihat wajah
pucatnya.
“aku memang sedih. Waktu terasa singkat ya,?” jawabnya
“maksud kakak ?”
“hidup itu indah. Tapi terlalu singkat bagi kakak.
Apalagi jika berakhir dengan sebuah fitnah.” Ungkapnya.
Kami berada tepat di depan
Labolatorium IPA di lantai 3. Aku terkejut mendengarnya. Maksudnya apa ? aku
masih belum mengerti. Rasanya ada yang ganjil darinya. Tapi entah mengapa hati
ku tersentuh dengan ucapannya. Aku turut bersedih walau sebenarnya tidak begitu
mengerti. Matanya mulai berkaca. Angin berhembus. Karena cukup kencang, mataku
ikut terpejam. Dan..
“ Hey ! aku cari-cari, ternyata kamu di sini.” Sahut
Tasya menepuk pundakku.
“ Kak Key mana ?” tanyaku heran saat melihat tak ada
Kak Key di sini.
“siapa ? aku baru dengar namanya. Waaah, ternyata kamu
dari tadi berduaan dengan seorang pria ? hati-hati looh..”
“Kok baru dengar ? dia kan yang … sebentar, dia kemana
? tidak mungkin menghilang begitu saja !” ujarku kebingungan.
“ jatuh kali ! hahaha..” gurau Tasya.
“ ngawur kamu ! jangan sebarangan !” sentakku.
“
sudahlah ! masalah itu nanti lagi dibahasnya. Toh, ia sekolah di sini juga, kan ? pasti masih
ada di sekolah ini.” Jelasnya.
Tasya
segera menarik tanganku lalu berlari ketakutan. Sebenarnya aku pun merasa
takut. Rasanya ada sebuah rahasia di sekolah ini.
Pikiran ku terus dibayangi rasa penasaran.
Satu bulan aku lalui aktifitasku di
sekolah ini. Aku mulai jarang melihat Kak Key. Sepintas kadang aku tmukan ia di
perpustakaan, di deppan kelasku, dan di tempat kami ngobrol sebulan lalu.
Perlahan aku mulai tertarik padanya. Dan setiap hari aku mulai menantikan
kehadirannya.
“Sya, Kak Key itu baik, tampan, dan pintar. Iya tidak
?” curhatku pada Tasya sambil melangkah di sepanjang rumput kecil pinggir
lantai 1.
“ehem, kayaknya ada yang lagi..”
“iri ya ??!” gurauku.
“ Tidak juga. Aku kan sudah punya Kak Tomy.” Jawabnya
menyombongkan diri
“iih, Tasya jahat. Kenapa baru bilang ?” tanyaku mulai
berjalan
mundur menghadapnya.
“kamu sendiri
menyembunyikan Kak Key.”
“siapa yang
menyembunyikan Kak Key ? dia kan ada di..”
“awas di
belakangmu !” sambung Tasya menoleh ke belakangku.
“aww !” aku
menabrak tanaman kebun sekolah.
“hahahaha..”
tawa Tasya.
“aduuh, sakit
tahu !eh, ini apa ?” geretuku terhenti melihat sebuah senter yang telah usang
tertimbun rerumputan yang aku duduki.
“coba aku lihat
!” pintanya lalu meraih tanganku untuk bangkit. Aku ambil senter itu yang
keadaannya sudah rusak.
“ gara-gara kamu
menimpa senter ini jadinya rusak !”
“enak saja !
badanku tidak seberat itu untuk membuat rusak senter ini.” Jelasku.
Senter ini rusak
nampak dari retakan kaca dan sudah tidak menyala lagi.
“Na, itu apa di
kepalamu ?” tanyanya heran.
“apa ? “ tanyaku
berbalik heran. Aku meraba kepalaku dan ada yang menetes di kepalaku.
“Daa..raah”
ujarnya terkejut.
Aku
tak berkata apapun. Rasanya ini berasal dari atas. Aku lihat diatasku adalah
lokasi pembicaraanku dengan Kak Key beberapa minggu yang lalu.
“siapa di atas
sana ?” taya Tasya.
“Kak Key..”
jawabku spontan agak ragu.
“ ada apa ini ?”
Tanya seorang pria menghampiri kami.
“hai, Kak Tomy !
Na, ini dia Kak Tomy.” Ujarnya girang.
Aku
masih bertatap kosong tanpa menghiraukan kedatangan Kak Tomy. Apa mungkin..? tidak ! itu tidak boleh
terjadi ! batinku.
“Na, kamu
mimisan.” Seru Tasya.
Aku tersadar dari lamunanku. Aku lihat Kak Tomyyang menatap tajam senter yang aku pegang. Hingga terdengar sebuah teriakan seorang siswa yang begitu dekat dari arah atas. Pusing sekali rasanya saat aku mendengar teriakan tersebut. Dan anehnya mereka seolah tidak mendengar apa-apa. Aku tutup telingaku dengan kedua tanganku. Aku kembali pingsan.
“ kamu sudah mendingan ?” Tanya Tasya.
“senter tadi
mana ?”
“sudah ditangani
Kak Tomy. Lebih baik kamu pikirkan keadaanmu.”
“oh, ya..
sebelum aku pingsan teriakkan siapa yangaku dengar ?”
“tidak ada
teriakan. Sudahlah, aku semakin khawatir denganmu. Aku antar kamu pulang ya ?!”
ajaknya cemas.
“baiklah..”
jawabku.
Di
rumah aku ceritakan keganjilan yang aku alami. Pada nenek.
“Jogjakarta
menyimpan banyak misteri” ungkap nenekku. Kemudian nenek mulai melantunkan lagu
jawa layaknya seorang sinden profesional. Mengajakku tertidur agar tidak
tertekan atas kejadian yang aku alami. Sebari membelai rambutku, aku pun
tertidur tanpa beban.
“Apa
itu?” tanya Tasya menghampiriku yang sedang memandangi tasbih pemberian nenek.
“Tasbih
dari nenek” jawabku
“untuk
apa ?”
“entahlah.
Dia bilang untuk perlindunganku.”
“ooh..
supaya tidak pingsan lagi ya ? emang ngaruh ? seperti dukun saja ! haahaa..”
ejeknya duduk di sebelahku.
“
jangan salah.. gini-gini juga nenekku sakti..”
“haha..” tawa
kami bersama.
Tasbih ini nenek
berikan padaku bukan tanpa maksud. Walau belum diberitahu, tapi dia bilang ini
harus aku bawa saat berada di sekitar sekolah.aku ikuti saja nasehat nenekku
ini.
Waktu pulang
tiba. Aku berjalan pulang bersama Tasya. Sebelumnya, seperti biasa, aku selalu
menunggunya selesai ngobrool dengan Kak Tomy. Ia adalah orang yang mencurigakan
menurutku. Tatapannya padaku selalu kabur. Seperti orag yang merasa dibuntuti
olehku.
Baru sampai
gerbang sekolah, aku teringat tasbih dari nenek tertinggal di loker meja kelas.
Aku kembali untuk mengambilnya. Saat aku buka pintu kelas,
“ Kak Key
?” sahutku melihat Kak Key memegang
tasbihku dari depan meja ku. Aku segera menghampirinya dengan wajah bahagia.
Kak Key masih fokus pada tasbih yang ia pegang.
“Kakak baik-baik
saja ?”tanyaku cemas.
Ia melihatku
tanpa ekspresi. Aku menatap aneh padanya. Lalu ia berlari kelluar membawa
tasbihku.
“Kak, mau kemana
? jangan pergi lagi Kak !” teriakku menyusulnya.
Ia terus berlari
hingga berhenti di tempat yang sama. Lantai 3 depan Lab. IPA. Aku pun ikut
berhenti dengan nafas kelelahan. Iamembalikkan badannya menghadapku. Lalu ia
memberikan tasbih tadi padaku.
“lihatlah dan
ungkapkan apayang akan kamu lihat!” ujarnya dengan wajah tersenyum ahru.
Lalu angin
berhembus begitu kencang hingga membuatku terpejam. Ketika kembali aku membuka
mata, sore yang sayu tiba-tiba berganti malam.
“apa yang
terjadi?” tanyaku terkejut.
Tempat ini masih
sama. Hanya saja,... tiba-tiba dari arah belakangku ada seorang pria yang
mendekat. Itu seperti.. Kak Tomy ! benar itu Kak Tomy. Aku melihatnya masuk ke
Lab.IPA. aku ikuti dia untuk melihat apa yang ia lakukan malam hari seperti
ini. Aku kira Kak Key mengajakku ke masa lalu. Dan ini terjadi karena bantuan
Tasbih dari nenek. Ternyata benar, rasanya nenekku punya indera ke enam. Dengan
jantung yang berdebar, aku terus memegang erat tasbih ini.
Ternyata Kak
Tomy mengambil sebuah map pada lemari di Lab. IPA.
“ Akhirnya aku
bisa menyingkirkan Key dengan Lembar jawaban ini.” Ujarnya membisik.
“siapa di dalam
?” tanya seorang pria lain dari arah luar dengan sorotan senter. Lalu ia membuka
pintu. Itu.. Kak Key !
“Kak,apa yang
terjadi ?” tanyaku menghampirinya.
Ia tidak menjawab dan nampak tak menyadari keberadaanku. Senter menyoroti Kak Tomy. Kak Tomy berlari mendekati pintu untuk beranjak kabur.
Ia tidak menjawab dan nampak tak menyadari keberadaanku. Senter menyoroti Kak Tomy. Kak Tomy berlari mendekati pintu untuk beranjak kabur.
“sedang apa kamu
di sini, Tomy ?” tanya Kak Key menghadang Kak Tomy yang hendak Kabur membawa
map tadi.
“bukan urusanmu
!” jawabnya sebari mendoraong Kak Key hingga ia terjatuh. Tangannya berdarah
mengenai sebuah pot bunga yang menyimpan serpihan kaca. Darahnya mengalir
begitu banyak. Aku ingin sekali membantunya. Tapi, aku tak dapat menyentuhnya.
“itu milik
sekolah, dasar pencuri !” Teriak Kak Key.
Terjadi
keributan antara keduanya. Hingga Kak Key terdorong melewati pagar pembatas
setinggi 1 meter. Memang terlalu pendek bagi sebuah pagar pembatas. Ia hampir
terjatuh dari lantai 3. Ia selamat karena tangan kirinya yang masih sempat
menggapai pagar pembatas. Berulang kali aku coba menolongnya tapi tanganku
menembusnya. Ya, aku diajaknya hanya untuk menyaksikan apa yang terjadi saat
ini.
“Tomy, tolong
aku !” pinta Kak Key pada Kak Tomy yang berdiri menatapnya.
Kak Tomy tidak
melakukan apa pun. Aku lihat Kak Key yang terus berusaha meraih dinding
pembatas dengan kedua tangannya. Tapi tangan kanannya berdarah bekas luka tadi
dan darahnya menetes. Tangan kirinya tak cukup kuat untuk menahan badannya. Dan
ia berteriak.
“Tidak !!”
teriakku histeris melihat Kak Key melepaskan genggamannya. Air mataku terus
mengalir. Nampak Kak Tomy yang sama-sama terkejut. Kami berlari turun untuk
memastikan keadaan Kak Key.
Aku tak kuasa
melihat keadaan Kak Key yang tergeletak di taman yang bertanamkan rerumputan
kecil padanya. Kak Tomy mengambil senter yang ikut terjatuh milik Kak Key. Ia
menyalakannya lalu menyoroti wajah Kak Key. Mata Kak Key terpejam. Kak Tomy
yang terlihat bingung dan terkejut segera pergi meninggalkannya. Senter tadi ia
sembunyikan di balik tanaman yang akan tinggi dari rerumputan agar tak
ditemukan sebagai bukti untuk menentukan ia sebagai pelakunya. Tentu saja
karena sidik jarinya tertera pada senter itu.
“ Kak..” bisikku
menangis.
Seseorang menghampiriku
dari belakang. Ia menutup mataku dengan kedua tangannya yang dingin dari
belakang. Karena shock aku kembali
terlelap di tempat ini.
Saat tersadar
aku berada di rumah. Tasya di sampingku. Ia bilang aku pingsan di taman dengan
pipi yang dibasahi air mata. Aku ceritakan apa yang aku alami pada Tasya. Tapi
ia tidak percaya. Lalu aku ceritakan pada nenek. Nenek menyuruhku menceritakan
hal ini pada pihak sekolah. Nenek sudah tahu ini akan terjadi. Benar nenekku
memang orang yang memiliki indera lain. Ia turunkan ilmunya padaku. Pantas aku
sering mengalami hal aneh.
Setelah aku
ceritakan pada pihak sekolah, dibantu nenek, mereka berkata bahwa memang Kak
Key meninggal satu tahun yang lalu. Saat itu diduga bunuh diri. Saat itu ia
sedang melakukan piket sekkolah. Ya, itu memang tugas seorang aktifis OSIS. Dan
arwahnya masih berkeliaran di sini. Jadi, yang aku jumpai bukan Kak Key yang
masih idup. Begitu sedih sekali mengetahuinya. Aku menangis memeluk nenek. Aku
terlanjur menyukai Kak Key. Tapi ini tidak mungkin dilanjutkan. Dia abstrak
untukku.
Setelah beberapa
penyelidikan berlangsung, Kak Tomy akhirnya ditetapkan sebagai pelakunya. Tasya
menangis memelukku. Aku terus berusaha menyadarkannya bahwa Kak Tomy bukan pria
baik untuknya. Aku ikut menangis bersamanya. Aku menyadarkan diriku bahwa Kak
Key telah tiada.
Mataku terus
tertuju pada sebuah batu nisan yang bertuliskan “ KESYAF”. Aku taburkan bunga
di sekitar tumbukan tanah yang menimbun jasadnya. Semua asa yang terpendam
dalam hatiku ikut tertabur bersamanya.
“ dia sudah
tenang, Na. Karna kamu sudah mengungkapkan kebenarannya. “ Tasya merangkulku
yang beruraian air mata.
“Tasya, aku
terlanjur menyukainya. Aku belum bisa menerima kenyataan pahit ini. Aku ingin
berbagi kebahagiaan bersamanya. Aku tahu ia masih mempunyai mimpi yang belum
terlaksana.” Ungkapku pada Tasya tersedu.
Sesuai
memanjatkan doa, bagi ketenangan Kak Key di sana, aku ingin sekali menemui Kak
Key untuk terakhir kalinya. Lalu aku kembali ke sekolah tepatnya di lokasi
terakhir sebelum ia pergi meninggalkan dunia ini.
“aku mohon,
Tuhan ! untuk terakhir kalinya aku menemui Kak Kesyaf. Izinkanlah..” pintaku
tertatih seorang diri di samping Lab. IPA lantai 3.
Sore yang sayu
mlai berhiaskan rintik hujan. Semakin lama, hujan semakin deras. Seseorang
menepuk pundakku dari belakang. Aku pegang tangan itu karna aku kira itu Tasya.
Tapi tangan Tasya tidak pernah sedingin ini. Apa mungkin..
“ Kak Key ?”
tanyaku, lalu aku balikkan badanku menghadapnya. Benar ini Kak Key.
“ Kak.. “ aku
mulai meneteskan air mata.
Kak Key
menghapus air mataku. Ia tersenyum seperti biasa. Kedua tangannya bertumpu pada
kedua pundakku.
“ nanana...
nananana..nana..nana..” ia bernyanyi sebuah lagu yang liriknya diganti dengan
namaku. itu lagu milik Acha Septriasa Sampai Ku Menutup Mata. Aku tersenyum
dan mulai tertawa haru mendengarnya.
“liriknya
salah.. ! harusnya,..” ucapku terputus.
“ sampai ku
menutup mata..” sambungnya dengan nada lagu yang sama beserta lirik yang
sesuai.
Angin berhembus
bersama tetesan air hujan. Lagi, mataku ikut terpejam dan setelah aku buka
kembali ia tidak ada.
“terima kasih
dan.. selamat jalan, Kak !” ujarku ditemani air mata dan angkasa yang ikut
menurunkan kesedihannya.
THE END


